hotpapichulo
He winked and rushed back to his seat because their first subject was about to start..
"Hey!" A voice sounded behind him.
"What are you doing? Go talk to her!" Frisk whispered.
I knocked to the door making him to look at me, but he never did. Geeez!! I'm going to kill this Devil. I did knock it again. that's when he started to turn around.
"Don't you have something you should be saying before you leave?" there was a sneer on his face.
The other students rose from their hiding places, unsure of how to react.
"Kumohon jangan begini!" teriak Sehun yang sedari tadi juga menahan amarah. Payung terlepas darinya. "kau tahu? Saat ini aku sangat ingin memelukmu. Tapi aku menahannya." menatap mata gadis itu dengan yakin. Mengatakannya dengan gigi yang tertempel rapat. Ya, itulah yang sebenarnya tengah dirasakan oleh Sehun. Kenapa ia menahan perasaan itu? tentu karena bayang-bayang Eunna masih menghantuinya. "aku rasa aku mulai gila. Secepat ini aku melupakannya, dan kini.." ia menghentikan perkataannya. Membuang pandangannya dari gadis itu. Menatap jalanan yang tiada henti menahan terjangan air hujan. "kita pulang saja. Ini sudah terlalu dingin. Kau bisa sakit." meraih payung yang tadinya terlepas darinya. Dan kembali menarik pergelangan tangan Yoona. Berjalan perlahan menembus derasnya hujan. Sehun masih menggenggam pergelangan itu, dan perlahan jemarinya mengisi sela-sela jemari gadis itu. Ia menggenggam dengan erat, sangat erat.
While that was true, some things could not be done alone. At some point, Nezumi had to bring in some people with the same interests, but he tried to keep the number as low as possible. That way, the less likely it was for him to get caught.
Carlo:buti nga haha
***
A few dozen kilos of Green Copper ore was only a few hundred contribution points. Li Fuchen used to care about this much of points, but not anymore.
"How different?" I asked
